NU, NKRI dan Khilafah

KH Mutawakkil ‘Alallah — kebetulan nama beliau sama dengan salah satu gelar seorang Khalifah Bani Abasiyah — Ketua PW NU Jatim menegaskan, bahwa siapapun dan apapun ormasnya yang mengganggu asas Pancasila dan keutuhan NKRI, maka akan berhadapan dengan NU.

Pernyataan keras ini disampaikan sebagaimana dinukileramuslim dari situs on-line NU oleh Kyai tersebut pada acara Harlah NU di Jombang. Ia juga dengan tegas meminta Negara bertindak tegas kepada pengusung ide Khilafah. Peryataan ini tentu mengandung ironi di tengah gagasan penegakan Khilafah yang semakin kuat mendapatkan sambutan hangat dari seluruh komponen ummat – tentu termasuk ummat Nahdliyin.

Bahkan SETARA Institute – sebuah LSM Liberal — dibuat kaget oleh hasil surveynya sendiri di akhir tahun 2010 ini, bahwa ternyata gagasan Khilafah yang semula asing itu sudah didukung oleh 34,6 % responden. Pernyataan di atas juga tak perlu direaksi secara emosional oleh para pejuang Khilafah, namun cukup ditanggapi secara arif dan argumentative berkepala dingin. Malah sebaiknya menurut kata hikmah Imam Syafii rahimahullah, FA KHOIRU MIN IJABATIHI AS SUKUUT, jawabnya lebih baik diam.

Sebagai respon atas kegelisahan Struktur Nahdliyin (karena tidak semua Nahdliyin menolak Khilafah), maka berbagai fakta empiris historis dan sejumlah narasi normative dari sumber turats Islam klasik serta kuatnya opini syariah dan khilafah di tengah ummat, dapat kiranya dijadikan bahan masukan para pihak penolak Khilafah. Dengan ini mudah-mudahan mampu memberikan bayan (klarifikasi) atas kesalahfaman mereka kepada gagasan tersebut, yang kesemuanya akan diurai secara ringkas di bawah ini.

Continue reading

Waduh, NU Jatim Minta Pemerintah Bubarkan Ormas Penganjur Khilafah

Ketua PWNU Jawa Timur KH Mutawakkil Alallah meminta pemerintah bersikap tegas terhadap organisasi kemasyarakatan yang tidak berasas Pancasila. Kalau perlu dibubarkan, karena mengancam keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Hal ini disampaikan ketua PW NU saat hadir dalam Harlah NU ke 85 yang digelar PC NU Jombang di GOR Merdeka Jombang, Ahad (10/7) yang juga dihadiri ketua PBNU H Saifullah Yusuf yang juga wakil Gubernur Jawa Timur.

Dikatakan Mutawakkil, sekarang ini marak bemunculan ormas yang terang-terangan mengajarkan khilafah dan tidak mengakui adanya asas Pancasila. ”Mereka menginginkan NKRI diganti khilafah, jika Indonesia ingin makmur,” ujarnya dihadapan ribuan jamaah.

Continue reading

Cinta yang Terlupakan Bagian 1

Senja mengintip malu dibalik garis-garis indah langit. Sang bulan menggantikan peranan sang matahari bertahtakan di langit untuk menemani manusia mengarungi kegelapan malam. Malam pun agaknya tersenyum mesra pada angin-angin malam yang kian malam semakin menunjukkan keganasannya untuk menembus kulit-kulit manusia dan membuat manusia merasa kedinginan.

Begitu hebatnya penciptaan di langit dan bumi sungguh mengungkapkan bagaimana besarnya rasa cinta dari Sang Pencipta akan ciptaanNya. Sungguh, tanpa rasa cinta maka seluruh alam semesta ini tentulah akan hancur, binasa tanpa bekas.

Cinta begitu indah namun juga bisa jadi begitu menyakitkan, ia punya seribu wajah yang tentulah akan berbeda wajahnya oleh setiap orang yang memandangnya. Cinta hadir tanpa bisa dicegah karena ia adalah fitrah. Namun, begitu banyak mereka-mereka yang mendapati wajah cinta begitu menyakitkan. Hal yang wajar karena mereka tidaklah mendapati wajah cinta yang sejatinya sangat indah. Kesuciannya yang dinodai membuatnya berwajah menyakitkan jika dipandang.

Cinta, dimanakah sejatinya ia?

“Kau, apa benar-benar yakin ingin menyatakan perasaanmu padanya?” tanya Haris pada sahabatnya itu.

“Tentu, aku sudah begitu lama memendam perasaanku ini, mungkin bisa dibilang aku sudah sangat-sangat mencintainya!” jawab Rafi.

“Tapi, apakah itu yang terbaik?”

“Tentu, apa salahnya aku menyatakan perasaanku padanya? Apalagi aku sudah sangat mencintainya, aku yakin ia pun mempunyai perasaan yang sama denganku!”

“Bagimu, cinta itu apa?” tiba-tiba Haris bertanya.

Continue reading

Skandal Century dan Sistem Ekonomi Islam

Skandal Century dan Sistem Ekonomi Islam

Pendahuluan

Beberapa bulan terakhir, Sistem Kehidupan yang telah diterapkan di Indonesia ini mendapat berbagai macam masalah di berbagai sendinya. Baik itu dari aspek ekonomi, politik maupun sosial. Bulan Oktober-November yang telah lewat terjadi masalah di tubuh aparat penegak hukum di negeri ini yaitu KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi), ketika dua orang pionirnya Bibit-Chandra ditangkap dan dijebloskan oleh polisi dengan berbagai tuduhan. Kasus ini pun sempat menghebohkan masyarakat karena masyarakat menangkap adanya beberapa fakta dan hal aneh dibalik kejadian ini, dan ternyata lambat laun terungkap lah bahwa penangkapan Bibit-Chandra ini hanyalah skenario yang dibuat oleh Anggodo. Dengan memberikan banyak uang, ia mampu mengendalikan berbagai macam badan penegak hukum, termasuk kepolisian yang ada di negeri ini untuk menangkap Bibit-Chandra dengan salah satu tujuannya ingin membebaskan Anggoro (kakaknya) yang ada di luar negeri. Ini tentunya menjadi salah satu potret keburukan dari sekian banyak keburukan sistem kehidupan yang diterapkan di Indonesia khususnya sistem hukum, ketika hukum itu ternyata bisa dibeli dan dikendalikan hanya dengan uang.

Belum lagi pudar ingatan masyarakat akan kasus Bibit-Chandra ini, muncul lagi masalah yang baru dan tidak kalah kontroversialnya dengan masalah Bibit-Chandra. Ya, masalah Skandal Bank Century pun tiba-tiba mencuat ke permukaan dan menambah daftar hitam kerusakan dan kebobrokan salah satu bagian hukum dan sistem kehidupan yang diterapkan di negeri ini. Skandal keuangan trilyunan rupiah pada sebuah bank kecil dan dikatakan oleh banyak ahli ekonom negeri merupakan bank yang sejak awal tidak sehat. Lalu, sebenarnya apa yang terjadi pada Bank Century ini, skandal keuangan seperti apa, melibatkan siapa saja dan terutama siapa yang paling bertanggung jawab atas terjadinya hal ini? Maka, inilah yang akan dibahas pada makalah singkat kali ini. Tentunya selain masalah skandal tadi, juga akan dipaparkan mengenai hak angket DPR yang sekarang sedang menjadi isu utama sebagai alat pembongkar skandal ini dan pastinya patut dipertanyakan apakah penggunaan hak angket ini mampu menyelesaikan permasalahan yang ada atau tidak. Dan satu hal yang terpenting, juga akan dipaparkan bagaimana sikap independen Islam dalam memandang permasalahan yang ada sekarang dan bagaimana Islam memberikan solusi akan permasalahan yang ada ini serta peran apa yang bisa kita lakukan dan berikan untuk mendukung solusi itu. Berikut pemaparannya,

Skandal Bank Century

Century, sebuah bank swasta yang dibentuk dari tiga bank bangkrut yaitu Bank Picco, Bank CIC dan Bank Danpac. Pembentukannya pun menimbulkan berbagai macam kontroversi terutama di kalangan pengamat ekonomi, dan juga di kalangan pemerintahan kita. Hal ini disebabkan terciumnya indikasi-indikasi aneh dan tidak masuk akal dalam pembentukan bank century dengan menggabungkan tiga bank yang bisa dikatakan hampir bangkrut. Logikanya, sangat aneh jika kita membuat kue yang bahan-bahannya itu kita ambil dari bahan-bahan yang sudah basi atau kondisinya sudah buruk bahkan beracun. Anehnya, tetap saja fakta akan kerusakan bank-bank ini tidak menghalangi pembentukan Bank Century dan walhasil wajar jika Bank Century itu sendiri merupakan bank yang bangkrut.
21 Juli 2009, sebesar 6,7 trilyun rupiah disuntikkan kepada Bank Century yang merupakan bank kecil dan tidak punya kekuatan apa-apa untuk bisa mempengaruhi peta perbankan Indonesia. Pemerintah khususnya Sri Mulyani ( Menkeu 2004/2009 ) dan Boediono (Dirut Bank Indonesia) menyetujui pemberian dana sebesar 6,7 trilyun rupiah ini kepada Bank Century dengan alasan yang tegas bahwa apabila Bank Century yang saat itu mengalami kebangkrutan dan kesulitan finansial ditutup maka akan berdampak sistemik pada perbankan Indonesia. Awalnya, rencananya hanya sebesar 632 miliar rupiah yang akan disuntikkan kepada Bank Century ini dan rencana ini pun diamini dan disetujui oleh DPR dengan catatan bahwa dana yang disetujui adalah 632 miliar. Namun, nyatanya bukan uang 632 miliar rupiah tadi yang disuntikkan justru 1000 kali lipatnya yaitu 6,7 trilyun rupiah. Hal ini menimbulkan pertanyaan banyak pihak, uang yang semulanya sebesar 632 miliar rupiah untuk membantu Bank Century memenuhi persyaratan rasio kecukupan modal sebesar 8 persen ternyata justru sebesar 6,7 trilyun yang disuntikkan. Kemana larinya uang yang sebanyak itu?

Continue reading