Renungan 19 Tahun

Ardiannur Ar-Royya“Waktu tak pernah berbelas kasih, ia senantiasa beranjak dari satu tempat ke tempat lain. Menghinggapi berbagai skenario kehidupan manusia hingga kemudian skenario kehidupan itu habis. Namun waktu senantiasa beranjak, ia melebihi skenario kehidupan yang berbatas, karena waktu tak pernah ada yang tahu batasannya. Hanya Ia, Sang Pencipta Alam lah yang tahu batas waktu yang mampu membatasinya. Aku, kamu, kita, mereka, semuanya tidak ada yang tahu! Hingga sadar bahwa waktu telah meninggalkan semua!”

Untaian sedikit kata-kata ini mengajakku untuk memikirkan lebih dalam lagi, apa yang sudah terjadi selama satu tahun ini. Kesadaran bahwa mungkin waktu semakin menipis telah memukulku untuk ber-muhasabah tentang diri ini. Hah, ternyata sudah selama ini hidup di dunia ya?

Continue reading

~Merenung~

Sendiri berdiri di sini
Di sudut ruang hati
Gelap menyakiti
Tak tahu apa artinya ini

Sakit kurasa
Sedih mendera
Air mata jatuh tak terasa
Raga pun lelah dirasa

Tiba-tiba terlihat cahaya
Cahaya penarik hatinya
Yang cantik parasnya
Yang indah bersua

Cahaya cinta ini
Cinta abadi
Yang kekal tak mati
Tanpa basa-basi

Cinta kepada Allah semata
Dalam hidup nyata
Merenggut hatinya
Tanpa tersisa

Mendobrak ke dalam hati
Rasa cinta Ilahi
Tanpa jati diri
Yang mendengki

Tidak hanya dengan lisan
Tapi dengan sikap ahsan
Tidak cukup pengucapan
Tapi pembuktian

Berazzam kuat
Menghancurkan kemunafikan sesat
Guna meraih nikmat
Cinta Ilahi nan kuat

Merenung pada kenyataan
Akankah ini dimiliki
Iman suci tak ternodai
Oleh angkuhnya hati

Seperti merpati putih
Terbang tinggi menjauh
Di awan putih dan bersih
Tanpa takut jatuh

Merenung. . .
Merenung. . .
Merenung. . .
Dan merenung. . .

By : Ardiannur Ar-Royya

Malang, Universitas Brawijaya, Lab. Komputer C F-MIPA

Pukul 12.39 wib

‘Semoga bisa menjadi renungan kita bersama’