Revolusi Timur Tengah: Umat Tidak Diam Terhadap Kezaliman Diktator

Malang- HTI Press. Revolusi Timur Tengah yang telah dan sedang terjadi kini semakin jelas tidak mengarah pada perubahan sistem. Hanyalah akumulasi kemuakan rakyat pada rezim semata. Menurut Ismail, jubir HTI yang hadir sebagai pembicara dalam diskusi publik bertajuk Hidup Sejahtera Dalam Naungan Khilafah Islamiyah di Aula Sport Center UIN Maliki Malang, ini menjadi bukti bahwa umat tidak diam dengan ulah kezaliman para rezim diktator.

Pada titik klimaks kemarahannya, rakyat akan melampiaskan kekecewaan dan kebenciannya kepada para rezim diktator dan pemerintahan yang korup dengan menggulingkannya. Penguasa zalim pasti tumbang.

Dalam kesempatan diskusi publik pada Ahad (10/4) itu Ismail juga menegaskan betapa hipokritnya Barat. Ia memberi contoh penolakan Perancis atas permohonan suaka presiden Tunis Ben Ali. Penolakan Perancis dan Amerika atas permohonan suaka Presiden Mesir Husni Mubarak. Bahkan Amerika membajak citra revolusi Mesir dengan mendatangkan Hilllary Clinton ke lapangan Tahrir Mesir.

Continue reading

Pernikahan Syar’I Pertama Bagiku (yang Kulihat)

Baraka Allahu Lakuma wa Baraka alaikuma
Wa jamaah baina kuma fii khair.
Barakallah hu lakuma wa baraka alaikuma
Wa jamaah baina kuma fii khair.

Tak henti aku ucapkan selamat kepada kedua sahabat seperjuanganku yang mana pada tanggal 14-15 November 2010 yang telah lalu baru saja melaksanakan akad nikah, di sebuah daerah terpencil yang merupakan perbatasan antara Sidoarjo dan Surabaya, yang sering dilalui pesawat-pesawat terbang yang take off dari Bandara Juanda Surabaya. Selamat atas akad nikah dan walimahan kalian berdua yang berlangsung dengan baik dan Insya Allah penuh berkah. Selalu do’a agar kalian berdua menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah wa rahmah terlantun dariku. Dan tentunya, semoga kalian berdua cepat dianugerahi dan dititipkan Allah seorang pejuang kecil yang akan meneruskan syair-syair perjuangan kita untuk menegakkan Islam di muka bumi ini. Amien ^_^

Alhamdulillah, satu lagi sahabat seperjuanganku di Brawijaya Malang ini melepaskan masa kesendiriannya –kayak ga pernah punya teman aja. Hehe-, kurang tepat ya kalo disebut masa kesendirian? Ya sudah, kita sebut saja masa ‘jomblo’, Insya Allah lebih tepat walau sedikit pakai bahasa gaul.

Ada yang sangat menarik bagiku di sini dan sudah tentu akan menjadi hal yang terus kuingat dan kukenang, yakni akad nikah sekaligus walimahan –syar’i- sahabatku yang satu ini merupakan akad nikah dan walimahan pertama yang kulihat hingga umurku saat ini, hingga hidupku saat ini. Bahkan tidak hanya sekedar menjadi peserta atau tamu undangan, tapi aku pun ikut terlibat penuh dalam persiapan acara serta proses acara itu sendiri. Tidak hanya sampai di sana, aku pun ikut terlibat –walau hanya sedikit- dalam proses perundingan bersama orang tua dari sang akhwat bersama sahabatku ikhwan ini. Senang sekali rasanya karena aku mendapatkan pelajaran yang sungguh tak ternilai harganya, seluruh rasa lelah menempuh perjalanan antara Malang-Sidoarjo terbayar setimpal dengan apa yang kudapat ini, peluh keringat akibat cuaca dan udara yang sangat panas ketika acara berlangsung bisa kunikmati jika mengingat apa yang sahabatku bagi kepadaku ini. Alhamdulillah, aku bersyukur…

Ini memang menjadi acara pernikahan sekaligus walimahan –syar’i- yang pertama kali kulihat. Kenapa? Bukan karena sewaktu aku berada di daerah asalku tidak ada pernikahan dan walimahan syar’I, ataupun ketika lebih kurang selama setahun aku berada di Malang ini tidak ada sama sekali acara walimahan. Bukan, sama sekali bukan itu! Sewaktu di daerah asalku –Banjarmasin, Kota Seribu Sungai- memang banyak sekali acara pernikahan dan walimahan yang tentu sudah jelas syar’I, sayangnya syar’I atau tidaknya ini hanya aku dapatkan dari cerita mulut serta sedikit ditambah foto-foto dari teman-temanku yang hadir di acara tersebut. Aku? Sayang sekali aku tidak pernah beruntung untuk hadir di acara-acara tersebut, setiap kali ada undangan serta ajakan teman-teman selalu saja secara kebetulan pula aku mendapat tugas dan amanah dakwah pada hari dilaksanakannya acara, tidak selalu seperti itu memang, terkadang jika tidak ada amanah dakwah pada hari itu, aku pasti punya acara keluarga yang memang juga penting. Maka jadilah aku tidak pernah cukup beruntung untuk hadir di pernikahan ataupun walimahan syar’I walau hanya satu kali di sana.

Itu pula yang terjadi di Malang, daerah domisili baruku. Sejak aku di Malang hingga hari ini, ada tiga undangan pernikahan sekaligus walimahan yang sampai kepadaku. Satu undangan tidak bisa kuhadiri, satunya memang bisa kuhadiri namun datang terlambat sehingga tidak sempat melihat akad nikah yang terlaksana, dan terakhir adalah undangan yang bisa kuhadiri dan kulihat prosesinya secara penuh yakni akad nikah serta walimahan dari kedua sahabatku yang aku ceritakan kali ini.

Continue reading

Malang, Kota Hujan..

Malang, Kota Hujan.. Mungkin memang layak aku sematkan julukan ini padanya.. Hari ini, lagi-lagi hujan mengguyur Brawijaya di sore yang cukup melelahkan ini. Lelah setelah seharian bergelut dengan berbagai macam mata kuliah yang ada.

Hujan, ia bening putih suci dan dingin. Jatuh pasrah dari awan untuk bertemu dengan bumi kembali.

Hmm,,masih ingat ketika dulu aq berada di daerah asalku, aku begitu menyukai hujan.. Wajar mungkin, karena memang daerah asalku adalah daerah yang sangat panas, gersang dan jika sudah musim kemarau, panasnya benar-benar nyata..

Masih jelas dalam ingatanku bahwa aku sering menyebutnya -hujan- sebagai sahabat. Ya, sahabat. Yang dengan kedatangannya merubah semua yang ada di sekitarku menjadi dingin, sejuk, dan sudah tentu basah.

Aku selalu menikmati kedatangannya, tak pernah mengeluh. Sama seperti saat ini, aku tetap menyukainya. Sahabat yang ku kenalkan kepada dua sahabatku yang lain untuk juga menyukai ia, sahabatku yang bernama hujan.

Walau terkadang banyak yang mencela kedatangannya, tapi aku yakin bahwa Allah memiliki alasan tersendiri kenapa ia menurunkan dan mendatangkan hujan.

Hmm, namun yang juga sungguh memalukan bagiku dan manusia yang lain, betapa lemahnya ternyata ketika berhadapan dengan sesuatu yang bernama hujan atau air.
Continue reading

Coban Rais Batu bersama MABA 2010 UB

Akhirnya, petualangan menuju air terjun Coban Rais pun dimulai. Setelah seluruh persiapan selesai, kami pun berangkat dengan jumlah pasukan sebanyak 18 orang karena sebagian dari teman-teman MABA maupun panitia ada yang pulang.

Perjalanan menuju Coban Rais ini ternyata tidak semudah yang saya pikirkan. Melewati perkampungan penduduk, jalan yang menanjak tinggi, dan terik matahari senantiasa menemani perjalanan kami dan menghapus rasa dingin yang kami rasakan. Namun, canda tawa, keunikan, dan semangat pun menghiasi perjalanan kami. Menyenangkan sekali, walau terkadang aku sempat mengeluh karena ingin cepat sampai ke tempat tujuan. Berjalan berkilo-kilo meter bersama teman-teman MABA 2010 ini, sambil sesekali berfoto dengan berbagai macam tingkah ekspresi yang berbeda-beda dan lucu juga latar belakang foto yang aneh-aneh. Keakraban sejati terpatri di antara kami, senyuman tulus menghiasi, dan semangat perjuangan demi Islam senantiasa menyelimuti jiwa kami.

Ketika melewati perkampungan, berbagai macam bentuk rumah, corak kehidupan menarik perhatian kami. Banyak sekali ternyata orang-orang Indonesia yang masih murni berpegang pada kebudayaannya, belum ternodai memang oleh budaya dan pemikiran kufur. Namun sayang, Islam pun belum mewarnai mereka. Menjadi tugas kami beserta orang-orang yang sudah mengerti dan paham akan hakikat Islam, tiada kompromi memang dalam berislam jika kita ingin mengatakan bahwa kita berislam secara kaffah.

Continue reading