
Baraka Allahu Lakuma wa Baraka alaikuma
Wa jamaah baina kuma fii khair.
Barakallah hu lakuma wa baraka alaikuma
Wa jamaah baina kuma fii khair.
Tak henti aku ucapkan selamat kepada kedua sahabat seperjuanganku yang mana pada tanggal 14-15 November 2010 yang telah lalu baru saja melaksanakan akad nikah, di sebuah daerah terpencil yang merupakan perbatasan antara Sidoarjo dan Surabaya, yang sering dilalui pesawat-pesawat terbang yang take off dari Bandara Juanda Surabaya. Selamat atas akad nikah dan walimahan kalian berdua yang berlangsung dengan baik dan Insya Allah penuh berkah. Selalu do’a agar kalian berdua menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah wa rahmah terlantun dariku. Dan tentunya, semoga kalian berdua cepat dianugerahi dan dititipkan Allah seorang pejuang kecil yang akan meneruskan syair-syair perjuangan kita untuk menegakkan Islam di muka bumi ini. Amien ^_^
Alhamdulillah, satu lagi sahabat seperjuanganku di Brawijaya Malang ini melepaskan masa kesendiriannya –kayak ga pernah punya teman aja. Hehe-, kurang tepat ya kalo disebut masa kesendirian? Ya sudah, kita sebut saja masa ‘jomblo’, Insya Allah lebih tepat walau sedikit pakai bahasa gaul.
Ada yang sangat menarik bagiku di sini dan sudah tentu akan menjadi hal yang terus kuingat dan kukenang, yakni akad nikah sekaligus walimahan –syar’i- sahabatku yang satu ini merupakan akad nikah dan walimahan pertama yang kulihat hingga umurku saat ini, hingga hidupku saat ini. Bahkan tidak hanya sekedar menjadi peserta atau tamu undangan, tapi aku pun ikut terlibat penuh dalam persiapan acara serta proses acara itu sendiri. Tidak hanya sampai di sana, aku pun ikut terlibat –walau hanya sedikit- dalam proses perundingan bersama orang tua dari sang akhwat bersama sahabatku ikhwan ini. Senang sekali rasanya karena aku mendapatkan pelajaran yang sungguh tak ternilai harganya, seluruh rasa lelah menempuh perjalanan antara Malang-Sidoarjo terbayar setimpal dengan apa yang kudapat ini, peluh keringat akibat cuaca dan udara yang sangat panas ketika acara berlangsung bisa kunikmati jika mengingat apa yang sahabatku bagi kepadaku ini. Alhamdulillah, aku bersyukur…
Ini memang menjadi acara pernikahan sekaligus walimahan –syar’i- yang pertama kali kulihat. Kenapa? Bukan karena sewaktu aku berada di daerah asalku tidak ada pernikahan dan walimahan syar’I, ataupun ketika lebih kurang selama setahun aku berada di Malang ini tidak ada sama sekali acara walimahan. Bukan, sama sekali bukan itu! Sewaktu di daerah asalku –Banjarmasin, Kota Seribu Sungai- memang banyak sekali acara pernikahan dan walimahan yang tentu sudah jelas syar’I, sayangnya syar’I atau tidaknya ini hanya aku dapatkan dari cerita mulut serta sedikit ditambah foto-foto dari teman-temanku yang hadir di acara tersebut. Aku? Sayang sekali aku tidak pernah beruntung untuk hadir di acara-acara tersebut, setiap kali ada undangan serta ajakan teman-teman selalu saja secara kebetulan pula aku mendapat tugas dan amanah dakwah pada hari dilaksanakannya acara, tidak selalu seperti itu memang, terkadang jika tidak ada amanah dakwah pada hari itu, aku pasti punya acara keluarga yang memang juga penting. Maka jadilah aku tidak pernah cukup beruntung untuk hadir di pernikahan ataupun walimahan syar’I walau hanya satu kali di sana.
Itu pula yang terjadi di Malang, daerah domisili baruku. Sejak aku di Malang hingga hari ini, ada tiga undangan pernikahan sekaligus walimahan yang sampai kepadaku. Satu undangan tidak bisa kuhadiri, satunya memang bisa kuhadiri namun datang terlambat sehingga tidak sempat melihat akad nikah yang terlaksana, dan terakhir adalah undangan yang bisa kuhadiri dan kulihat prosesinya secara penuh yakni akad nikah serta walimahan dari kedua sahabatku yang aku ceritakan kali ini.
Continue reading →