Kemiskinan di Indonesia Menurun Benar-Benar FAKTA. Ini Dia Penyebabnya.

Kata Pak Be-Ye, angka pertumbuhan ekonomi di Indonesia itu tinggi. Jumlah orang miskin sudah berkurang. Percaya nggak? Mesti percaya dong. Ini faktor-faktor penyebabnya:

1. Pemerintah kita baik hati dan tidak sombong

Yang penting kebagian. Kualitas mah urusan belakanganYang penting kebagian. Kualitas mah urusan belakangan

Waktu rakyat miskin kelaparan, pemerintah segera menggelar pembagian beras raskin. Rakyat miskin berkumpul di tempat pembagian beras raskin. Orang yang ngantri sampai ratusan, beras yang dibagiin cuma sedikit. Banyak kutunya, lagi. Seminggu beras habis, rakyat miskin kelaparan lagi. Terus puasa sampe mati.

Rakyat miskin mati, angka kemiskinan berkurang.

Continue reading

Jakarta,Kota Metropolitan yang Menangis

jakarta2Jakarta yang dikenal sebagai kota di indonesia yang memiliki kemajuan tekhnologi,dinamika ekonomi,politik paling besar ternyata juga memiliki banyak sisi menyedihkan. Lihat saja,dibalik gedung-gedung tinggi yang menjulang tinggi ke langit atau jalan layang yang begitu banyaknya ternyata kemiskinan juga tidak kalah banyaknya. Para pengemis dan peminta-minta di perempatan jalan,lampu merah,tempat-tempat makan dan lain-lain juga sangat banyak. Khususnya sebuah pemandangan menyedihkan yang tidak ada di kota asal penulis, yaitu pemukiman kumuh yang sangat banyak dan sering ditemukan di bawah jalan-jalan layang atau di pinggiran pusat kota. Pengalaman berkunjung ke Jakarta ini membuat penulis mendapatkan lebih banyak gambaran kehidupan mengenai betapa menyedihkannya kondisi manusia sekarang khususnya Indonesia. Aneh memang, Indonesia yang kaya akan sumber daya alam ternyata kondisi masyarakatnya sangat menyedihkan seperti ini. Indonesia yang memiliki tambang emas yang sangat besar di Irian Jaya sana, batu bara di Kalimantan, dls ternyata masih sangat kesulitan untuk menciptakan sebuah kesejahteraan baik itu dari sisi politik, budaya, sosial dan khususnya ekonomi  bagi masyarakatnya.

Itu baru dari segi ekonomi dimana banyak sekali kecacatan yang ada dan memang tidak bisa kita pungkiri bahwa orang kaya dan orang miskin terlihat sekali bedanya bagaikan gedung-gedung yang menjulang tinggi dengan tanah yang berada di bawahnya. Lain lagi dengan segi pergaulannya, ternyata pergaulan di kota-kota besar dan metropolitan lebih parah “rusak” nya dibandingkan misalnya dengan kota tempat penulis berasal. Memang penulis pernah mendengar bahwa pergaulan di kota-kota metropolitan itu lebih parah daripada kota-kota lain pada umumnya. Namun, setelah pergi dan melihat realita yang ada di salah satu kota metropolitan seperti di Jakarta bahkan mungkin kota metropolitan lainnya, maka penulis pun semakin percaya dengan apa yang pernah diberitakan oleh orang-orang di sekitar penulis. Mengerikan memang bagaimana pergaulan yang ada di sana, seolah-olah tidak ada batasan lagi antara laki-laki dan perempuan. Lihat saja, di tempat-tempat umum sekalipun tindakan yang sewajarnya dilakukan oleh sepasang suami-istri pun wajar dilakukan oleh sepasang muda-mudi yang tidak jelas statusnya. Anehnya yang membuat penulis terkejut adalah ketika melihat orang-orang di sekitarnya yang seolah-olah biasa saja melihat hal tersebut dan tidak ada satu pun yang menegur mereka. Ini lebih parah daripada di kota tempat penulis berasal dimana apabila hal serupa terjadi setidaknya masih ada yang menegurnya. Sungguh menyedihkan hal seperti ini.

Continue reading

Menggugat Kemerdekaan Indonesia

Merdeka, Merdeka

Mungkin itulah kata-kata yang ramai diteriakkan dua hari yang lalu. Memang benar, dua hari yang lalu adalah tanggal 17 Agustus, tanggal yang sangat bersejarah bagi bangsa Indonesia. Ya, pada tanggal itulah Indonesia mendapatkan sesuatu yang dikatakan sebagai sebuah “Kemerdekaan” dan bebas dari penjajahan. Dua hari yang lalu, 17 Agustus 2010, genap lah 65 tahun kemerdekaan Indonesia itu. Secara sederhana, kemerdekaan artinya sebuah kebebasan dan bisa jadi sebuah kemakmuran yang didapatkan oleh sebuah negara. Kebebasan untuk mengatur administrasi dan birokrasi negaranya sendiri, kemakmuran dan kesejahteraan yang bisa didapatkan oleh para rakyatnya. Itulah sedikit dan sederhana dari definisi sebuah kemerdekaan. Namun, jika melihat keadaan Indonesia sekarang, benarkah Indonesia sudah merdeka? Benarkah keadaan yang sekarang layak disebut sebagai sebuah kemerdekaan? Atau kalaupun sekarang ini diartikan sebuah kemerdekaan, benarkah kemerdekaan yang seperti ini yang diharapkan oleh para pejuang kemerdekaan itu sendiri?

Continue reading

Skandal Century dan Sistem Ekonomi Islam

Skandal Century dan Sistem Ekonomi Islam

Pendahuluan

Beberapa bulan terakhir, Sistem Kehidupan yang telah diterapkan di Indonesia ini mendapat berbagai macam masalah di berbagai sendinya. Baik itu dari aspek ekonomi, politik maupun sosial. Bulan Oktober-November yang telah lewat terjadi masalah di tubuh aparat penegak hukum di negeri ini yaitu KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi), ketika dua orang pionirnya Bibit-Chandra ditangkap dan dijebloskan oleh polisi dengan berbagai tuduhan. Kasus ini pun sempat menghebohkan masyarakat karena masyarakat menangkap adanya beberapa fakta dan hal aneh dibalik kejadian ini, dan ternyata lambat laun terungkap lah bahwa penangkapan Bibit-Chandra ini hanyalah skenario yang dibuat oleh Anggodo. Dengan memberikan banyak uang, ia mampu mengendalikan berbagai macam badan penegak hukum, termasuk kepolisian yang ada di negeri ini untuk menangkap Bibit-Chandra dengan salah satu tujuannya ingin membebaskan Anggoro (kakaknya) yang ada di luar negeri. Ini tentunya menjadi salah satu potret keburukan dari sekian banyak keburukan sistem kehidupan yang diterapkan di Indonesia khususnya sistem hukum, ketika hukum itu ternyata bisa dibeli dan dikendalikan hanya dengan uang.

Belum lagi pudar ingatan masyarakat akan kasus Bibit-Chandra ini, muncul lagi masalah yang baru dan tidak kalah kontroversialnya dengan masalah Bibit-Chandra. Ya, masalah Skandal Bank Century pun tiba-tiba mencuat ke permukaan dan menambah daftar hitam kerusakan dan kebobrokan salah satu bagian hukum dan sistem kehidupan yang diterapkan di negeri ini. Skandal keuangan trilyunan rupiah pada sebuah bank kecil dan dikatakan oleh banyak ahli ekonom negeri merupakan bank yang sejak awal tidak sehat. Lalu, sebenarnya apa yang terjadi pada Bank Century ini, skandal keuangan seperti apa, melibatkan siapa saja dan terutama siapa yang paling bertanggung jawab atas terjadinya hal ini? Maka, inilah yang akan dibahas pada makalah singkat kali ini. Tentunya selain masalah skandal tadi, juga akan dipaparkan mengenai hak angket DPR yang sekarang sedang menjadi isu utama sebagai alat pembongkar skandal ini dan pastinya patut dipertanyakan apakah penggunaan hak angket ini mampu menyelesaikan permasalahan yang ada atau tidak. Dan satu hal yang terpenting, juga akan dipaparkan bagaimana sikap independen Islam dalam memandang permasalahan yang ada sekarang dan bagaimana Islam memberikan solusi akan permasalahan yang ada ini serta peran apa yang bisa kita lakukan dan berikan untuk mendukung solusi itu. Berikut pemaparannya,

Skandal Bank Century

Century, sebuah bank swasta yang dibentuk dari tiga bank bangkrut yaitu Bank Picco, Bank CIC dan Bank Danpac. Pembentukannya pun menimbulkan berbagai macam kontroversi terutama di kalangan pengamat ekonomi, dan juga di kalangan pemerintahan kita. Hal ini disebabkan terciumnya indikasi-indikasi aneh dan tidak masuk akal dalam pembentukan bank century dengan menggabungkan tiga bank yang bisa dikatakan hampir bangkrut. Logikanya, sangat aneh jika kita membuat kue yang bahan-bahannya itu kita ambil dari bahan-bahan yang sudah basi atau kondisinya sudah buruk bahkan beracun. Anehnya, tetap saja fakta akan kerusakan bank-bank ini tidak menghalangi pembentukan Bank Century dan walhasil wajar jika Bank Century itu sendiri merupakan bank yang bangkrut.
21 Juli 2009, sebesar 6,7 trilyun rupiah disuntikkan kepada Bank Century yang merupakan bank kecil dan tidak punya kekuatan apa-apa untuk bisa mempengaruhi peta perbankan Indonesia. Pemerintah khususnya Sri Mulyani ( Menkeu 2004/2009 ) dan Boediono (Dirut Bank Indonesia) menyetujui pemberian dana sebesar 6,7 trilyun rupiah ini kepada Bank Century dengan alasan yang tegas bahwa apabila Bank Century yang saat itu mengalami kebangkrutan dan kesulitan finansial ditutup maka akan berdampak sistemik pada perbankan Indonesia. Awalnya, rencananya hanya sebesar 632 miliar rupiah yang akan disuntikkan kepada Bank Century ini dan rencana ini pun diamini dan disetujui oleh DPR dengan catatan bahwa dana yang disetujui adalah 632 miliar. Namun, nyatanya bukan uang 632 miliar rupiah tadi yang disuntikkan justru 1000 kali lipatnya yaitu 6,7 trilyun rupiah. Hal ini menimbulkan pertanyaan banyak pihak, uang yang semulanya sebesar 632 miliar rupiah untuk membantu Bank Century memenuhi persyaratan rasio kecukupan modal sebesar 8 persen ternyata justru sebesar 6,7 trilyun yang disuntikkan. Kemana larinya uang yang sebanyak itu?

Continue reading