Revolusi Timur Tengah: Umat Tidak Diam Terhadap Kezaliman Diktator

Malang- HTI Press. Revolusi Timur Tengah yang telah dan sedang terjadi kini semakin jelas tidak mengarah pada perubahan sistem. Hanyalah akumulasi kemuakan rakyat pada rezim semata. Menurut Ismail, jubir HTI yang hadir sebagai pembicara dalam diskusi publik bertajuk Hidup Sejahtera Dalam Naungan Khilafah Islamiyah di Aula Sport Center UIN Maliki Malang, ini menjadi bukti bahwa umat tidak diam dengan ulah kezaliman para rezim diktator.

Pada titik klimaks kemarahannya, rakyat akan melampiaskan kekecewaan dan kebenciannya kepada para rezim diktator dan pemerintahan yang korup dengan menggulingkannya. Penguasa zalim pasti tumbang.

Dalam kesempatan diskusi publik pada Ahad (10/4) itu Ismail juga menegaskan betapa hipokritnya Barat. Ia memberi contoh penolakan Perancis atas permohonan suaka presiden Tunis Ben Ali. Penolakan Perancis dan Amerika atas permohonan suaka Presiden Mesir Husni Mubarak. Bahkan Amerika membajak citra revolusi Mesir dengan mendatangkan Hilllary Clinton ke lapangan Tahrir Mesir.

Continue reading

Keunikan Hizbut Tahrir – Sebuah Analisis Politik

Oleh : Dr. Ing Fahmi Amhar*

Hizbut Tahrir (“Partai Pembebasan”) adalah sebuah fenomena politik Indonesia yang unik. Dari seratus lebih parpol yang mewarnai pentas nasional sejak reformasi 1998, HT adalah “partai” yang barangkali tertua. Didirikan 1953 di Jordania, HT dari awal menyebut dirinya partai politik, bukan sekedar gerakan dakwah. Sifatnya yang kosmopolit dan internasional, membuat HT berada di mana-mana. Di Indonesia HT eksis dengan legalitas sebagai organisasi massa dengan nama HTI (Hizbut Tahrir Indonesia). Untuk memahaminya, berikut sekilas “yang unik” dari HT.

1. Da’wah Group – but also Political Party HT adalah kelompok dakwah, yang diperintahkan menasehati siapa saja (QS 3:104), sedang yang paling berhak dinasehati itu adalah penguasa, yang mengurusi segala masalah ummat (tanpa dibatasi). Maka dakwah seperti ini bisa disebut aktivitas politik, dan kelompoknya bisa disebut partai politik.

2. Politics – but smart & smarting the people Namun aktivitas politik HT adalah “high-politics” atau “smart and smarting politics”. HT mendidik masyarakat agar sadar hak dan kewajiban islaminya, sehingga mereka bisa mengawasi penguasanya, agar memerintah sesuai dengan Islam. Bagi HT sudah cukup bahwa masyarakat bersama penguasanya berjalan islami, tanpa harus berkuasa sendiri.

3. Political party – but extra parlementary Meski HT adalah partai politik, namun HT memilih berjalan di luar parlemen. Karena itu HT juga tidak berminat turut dalam Pemilu, sekalipun memiliki massa yang banyak. Ini karena HT memandang, parlemen dalam sistem demokrasi tidak sepenuhnya kompatibel dengan Islam, dan tidak akan mampu memberi jalan bagi tegaknya Islam di manapun. Dan fakta sejarah di berbagai negara menunjukkan bahwa perubahan yang revolusioner tidak pernah, tidak bisa dan tidak perlu melalui jalan parlemen. Meski demikian HT membolehkan seorang muslim yang memperjuangkan Islam via parlemen untuk muhasabatul hukkam (menasehati penguasa) atau untuk menguak hukum-hukum atau perilaku penguasa yang bertentangan dengan Islam.

Continue reading

Jubir HTI : Pidato SBY , Tidak Mencerminkan Seorang Presiden

Jakarta,-Pidato Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 16 Agustus lalu terus menuai kritik. Banyak pengamat menilai bahwa pidato tersebut hanya pencitraan dan tidak menyentuh permasalahan utama yang dihadapi rakyat. Bahkan Jurubicara Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Muhammad Ismail Yusanto menilai SBY itu berpidato tidak seperti layaknya seorang presiden berpidato. Tetapi tidak lebih seperti seorang pengamat yang sedang menyampaikan hasil amatannya.

Continue reading