
Sebagai acara pamungkas dari kegiatan Konferensi Rajab 1432 H yang berlangsung di 29 kota di Indonesia, DPP Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) menggelar Perhelatan Akbar pada Rabu(29/6) di Stadion Lebak Bulus, Jakarta Selatan.


Sebagai acara pamungkas dari kegiatan Konferensi Rajab 1432 H yang berlangsung di 29 kota di Indonesia, DPP Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) menggelar Perhelatan Akbar pada Rabu(29/6) di Stadion Lebak Bulus, Jakarta Selatan.

Jakarta yang dikenal sebagai kota di indonesia yang memiliki kemajuan tekhnologi,dinamika ekonomi,politik paling besar ternyata juga memiliki banyak sisi menyedihkan. Lihat saja,dibalik gedung-gedung tinggi yang menjulang tinggi ke langit atau jalan layang yang begitu banyaknya ternyata kemiskinan juga tidak kalah banyaknya. Para pengemis dan peminta-minta di perempatan jalan,lampu merah,tempat-tempat makan dan lain-lain juga sangat banyak. Khususnya sebuah pemandangan menyedihkan yang tidak ada di kota asal penulis, yaitu pemukiman kumuh yang sangat banyak dan sering ditemukan di bawah jalan-jalan layang atau di pinggiran pusat kota. Pengalaman berkunjung ke Jakarta ini membuat penulis mendapatkan lebih banyak gambaran kehidupan mengenai betapa menyedihkannya kondisi manusia sekarang khususnya Indonesia. Aneh memang, Indonesia yang kaya akan sumber daya alam ternyata kondisi masyarakatnya sangat menyedihkan seperti ini. Indonesia yang memiliki tambang emas yang sangat besar di Irian Jaya sana, batu bara di Kalimantan, dls ternyata masih sangat kesulitan untuk menciptakan sebuah kesejahteraan baik itu dari sisi politik, budaya, sosial dan khususnya ekonomi bagi masyarakatnya.
Itu baru dari segi ekonomi dimana banyak sekali kecacatan yang ada dan memang tidak bisa kita pungkiri bahwa orang kaya dan orang miskin terlihat sekali bedanya bagaikan gedung-gedung yang menjulang tinggi dengan tanah yang berada di bawahnya. Lain lagi dengan segi pergaulannya, ternyata pergaulan di kota-kota besar dan metropolitan lebih parah “rusak” nya dibandingkan misalnya dengan kota tempat penulis berasal. Memang penulis pernah mendengar bahwa pergaulan di kota-kota metropolitan itu lebih parah daripada kota-kota lain pada umumnya. Namun, setelah pergi dan melihat realita yang ada di salah satu kota metropolitan seperti di Jakarta bahkan mungkin kota metropolitan lainnya, maka penulis pun semakin percaya dengan apa yang pernah diberitakan oleh orang-orang di sekitar penulis. Mengerikan memang bagaimana pergaulan yang ada di sana, seolah-olah tidak ada batasan lagi antara laki-laki dan perempuan. Lihat saja, di tempat-tempat umum sekalipun tindakan yang sewajarnya dilakukan oleh sepasang suami-istri pun wajar dilakukan oleh sepasang muda-mudi yang tidak jelas statusnya. Anehnya yang membuat penulis terkejut adalah ketika melihat orang-orang di sekitarnya yang seolah-olah biasa saja melihat hal tersebut dan tidak ada satu pun yang menegur mereka. Ini lebih parah daripada di kota tempat penulis berasal dimana apabila hal serupa terjadi setidaknya masih ada yang menegurnya. Sungguh menyedihkan hal seperti ini.