Kritik, Baqo, dan Pantai Balekambang

           Teman-teman, pernah ga ketika kalian sudah menyelesaikan suatu amanah dakwah dengan susah payah dalam sebuah organisasi dakwah kemudian menyerahkannya kepada ketua organisasi, tiba-tiba hasil kerjaan kita itu dikritik dengan berbagai macam kritikan, dan lainnya hingga membuat hati kita panas dan dongkol?

Hmm, saya pernah mengalami hal seperti  itu. Merasakan kritik yang sangat tidak mengenakkan di telinga, kemudian hati yang marah dan seterusnya. Nah, hal itulah yang akan saya bagi kepada teman-teman sekalian. Perasaan saya dan cara menyikapi ala “Ardi” serta barang tentu hikmah yang Insya Allah dapat diambil.

Awal cerita begini, ketika itu jum’at pagi, dan pagi itu sebelum shalat jum’at, sebuah amanah dakwah yang dibebankan kepada saya harus sudah selesai karena deadlinenya adalah sebelum shalat jum’at. Akhirnya setelah bangun tidur dan shalat subuh berjamaah, saya pun mulai berkutat dengan amanah itu di notebook kesayangan saya. Amanah yang harus saya selesaikan adalah membuat desain sekaligus isi buletin organisasi dakwah saya mengenai NII yang saat ini tengah marak isunya di masyarakat. Rencana awal malam sebelumnya ingin mencoba menyelesaikan amanah ini, tapi karena rasa lelah yang luar biasa, akhirnya hanya bisa terkulai lemas di atas kasur. Wajar, karena dari pagi sampai sorenya saya juga harus mengerjakan aktivitas dakwah yang berbagai macam jenis. Pokoknya tiada hari, tiada jam, tiada menit, dan tiada detik tanpa dakwah. Karena itulah baru subuhnya buletin itu bisa mulai dikerjakan, mungkin terlihat gampang dan mudah mengerjakannya tapi pada kenyataannya tidak seperti itu. Memikirkan desain dan juga isinya sekaligus bagi saya yang bukan merupakan desainer tulen akan cukup sulit, apalagi jika ide sedang mandek-mandeknya, udah deh, bakalan bingung. Kalau masalah isi mungkin tidak akan terlalu sulit karena memang saya sudah cukup terlatih dalam masalah tulis menulis. Tapi, ada juga faktor lain yang membuat saya cukup tidak bisa membuat konsentrasi, yakni ada satu amanah lagi yang juga harus selesai sebelum shalat jum’at, amanah untuk membuat surat-surat undangan kepada para tokoh, alim ulama, dst untuk acara pada hari minggunya, jadilah pikiran terbagi kepada dua hal ini. Namun, pada akhirnya saya memutuskan untuk mengerjakan amanah pertama, membuat buletin terlebih dahulu.

Continue reading