Cinta yang Terlupakan Bagian 5

Malam itu, seusai shalat isya berjamaah di mesjid dekat kosnya, Haris pun langsung tancap gas menuju kosnya Kak Shafy untuk menjemputnya kemudian bersama-sama menuju rumah sakit Lafalet di tengah kota untuk menjenguk anak Ustadz Ilyas yang sedang sakit keras terkena demam berdarah. Sebentar saja, ia sudah sampai di depan kosnya Kak Shafy, dan ternyata beliau sudah siap di depan kosnya hingga tak lama kemudian mereka berdua berangkat menuju rumah sakit itu. Sebelumnya Kak Shafy sudah mengirim sms kepada Ustadz Ilyas yang mengabarkan bahwa mereka berdua akan berkunjung ke tempat beliau, dan alhamdulillah beliau tidak keberatan.

“Kok bisa ya kak anak beliau terkena DBD? Padahal kan baru saja beberapa hari yang lalu kita berkunjung ke rumah Ustadz Ilyas dan melihat anak beliau, si Fikri baik-baik saja. Bahkan kita sempat bermain-main bersama dia?” tanya Haris yang kaget sekaligus kebingungan.

“Ya begitulah dek yang namanya ketentuan Allah. Kita kan ga akan pernah bisa tau kapan dan apa yang akan terjadi pada kita? Ingat kan kalau manusia itu sangat lemah, bahkan menentukan dia lahir sebagai laki-laki atau perempuan saja tidak bisa kan?” jawab Kak Shafy.

“Iya ya kak, manusia sangat lemah. Tapi anehnya kak ya, manusia yang lemah itu berani mengingkari hukum dan perintah yang Maha Kuat, bahkan sampai ada yang berani membuat hukum juga perintah untuk menandingi hukum dan perintah dari yang Maha Kuat!”

“Itulah manusia yang kelewat batas menggunakan akal dan apa-apa yang diberikan Allah. Misalnya saja akal, Allah memberikan manusia akal agar digunakan untuk menyadari tanda-tanda kekuasaan Allah sehingga manusia bisa membuktikan bahwa Allah itu ada kemudian mengimaninya. Lha ini? Ada saja manusia yang kelewat gila menggunakan akalnya, ia berani menentukan wujud Allah itu seperti apa, malaikat, dls. Bahkan berani mengambil peran dan hak prerogatif Allah untuk membuat hukum peraturan kehidupan ini!”

“Bener-bener manusia yang pantas diazab ya kak?”

Continue reading

Cinta yang Terlupakan Bagian 4

…Cinta yang sejati itu tidak akan pernah menyakiti, ia akan senantiasa menghiasi kehidupan kita dengan bunga-bunga kehidupan nan indah…

Kata-kata itu senantiasa terngiang dalam pikiran Haris, begitu berarti makna yang tersirat dari perkataan Kak Shafy itu. Memang benar bahwa cinta itu tidak akan pernah menyakiti, jika ia memang cinta sejati yang sebenarnya, bukan cinta semu nan palsu yang tentu akan menyakiti siapapun yang merasakannya. Ia memang berniat menemukan jawaban akan pertanyaan yang hingga sekarang ini memang belum bisa ia temukan jawaban yang paling memuaskan untuk hal itu. Yah, perjalanan untuk mencari jawaban pun akan senantiasa ia lalui…

≡|||≡

Kampus hari ini cukup sepi, tak terlalu banyak aktivitas mahasiswa yang terlihat hari ini. Wajar memang, karena mulai hari ini kampus memasuki masa minggu tenang sebagai waktu untuk para mahasiswanya mempersiapkan diri menghadapi ujian akhir. Tak terkecuali Haris, hari ini memang tidak ada kuliah atau agenda apapun di kampus namun ia tetap pergi ke kampus untuk belajar dan mempersiapkan dirinya untuk menghadapi ujian akhir.

Saat itu ia sedang berada di sebuah gazebo fakultasnya, di sekelilingnya terlihat sepi. Hanya sedikit mahasiswa-mahasiswi yang ada di sana, kebanyakan memang juga sedang belajar. Haris duduk santai di bawah sebuah pohon besar nan rindang, menghadapi sebuah catatan pelajaran sambil berusaha mengingat-ngingat pelajaran-pelajaran yang sudah didapatkannya.

Pagi terasa menemani dengan setia keberadaannya di sana, membuat hawa sejuk tak terkira nikmatnya berkelakar di hadapannya. Damai dan sejuk, ia rasakan merasuk dalam dirinya. Nikmat sekali diberikan Allah seperti ini, walau kebanyakan dari manusia khususnya umat muslim yang lupa untuk bersyukur kepada Allah. Bahkan seringkali mencampakkan hukum Allah dalam menjalani kehidupannya.

Tiba-tiba…

Continue reading

Cinta yang Terlupakan Bagian 3

Malam itu Haris sudah pulang dan berada di kosnya, namun tak seperti biasa. Kali ini ia sendiri tanpa ditemani Rafi, sahabat sekaligus teman satu kamarnya. Memang tak biasa jika Rafi pergi dan belum pulang juga hingga malam seperti ini, kecuali memang ada satu keperluan seperti mengerjakan tugas, organisasi, dan lainnya. Tapi, seingat Haris akhir-akhir ini, Rafi tidak lah berada dalam posisi seseorang yang sibuk, terlihat jelas bahwa kegiatannya begitu santai. Belum ada tugas-tugas yang baru dan juga organisasi yang diikutinya belum mengadakan acara dan kegiatan lagi.

Seperti biasanya, setelah shalat Isya berjamaah di mesjid dekat kosnya, ia pun melewati malam itu dengan membasahi bibir serta menghiasi perkataannya dengan firman-firman Allah yang mulia, sembari hanyut dalam penghayatan terhadap makna tanpa celah keburukan dari kata-kata sang Maha Pencipta itu. Terlewat barisan kata per kata dengan kesempurnaan paling agung tiada cacat sedikitpun, dikawal dengan bacaan penuh penghayatan dari seorang makhluk lemah lagi hina. Al-Qur’an, kitab petunjuk bagi umat muslim khususnya dan manusia pada umumnya. Kandungannya begitu sempurna, peraturan hidup yang digariskannya sebagai aturan yang “seharusnya” ditaati oleh segenap makhluk hidup bernama manusia di dunia ini tanpa alasan untuk tak mentaatinya sedikitpun. Sayangnya, peraturan hidup itu dibuang dan tidak dipedulikan oleh kebanyakan manusia di dunia ini sehingga keluarlah mereka semua dari fitrah hidup yang harusnya melekat di diri mereka. Betapa menyedihkannya…

Ya, Islam tidak hanya berbicara tentang individu dengan Tuhannya saja namun juga berbicara permasalahan muamalah antar manusia di dunia ini yang peraturannya lengkap tertulis di Al-Qur’an dan juga telah dicontohkan oleh seorang manusia yang “seharusnya” juga menjadi idola semua manusia, yakni Rasulullah Saw. Islam mengatur seluruhnya, dari aspek individu, ibadah, politik, ekonomi, budaya, sosial, dan lainnya. Tidak ada aspek kehidupan manusia yang bisa luput dari aturan Islam. Karena Islam itu sempurna.

Dan malam ini, Haris pun masih terus larut dalam penghayatannya…

≡|||≡

Continue reading

Cinta yang Terlupakan Bagian 1

Senja mengintip malu dibalik garis-garis indah langit. Sang bulan menggantikan peranan sang matahari bertahtakan di langit untuk menemani manusia mengarungi kegelapan malam. Malam pun agaknya tersenyum mesra pada angin-angin malam yang kian malam semakin menunjukkan keganasannya untuk menembus kulit-kulit manusia dan membuat manusia merasa kedinginan.

Begitu hebatnya penciptaan di langit dan bumi sungguh mengungkapkan bagaimana besarnya rasa cinta dari Sang Pencipta akan ciptaanNya. Sungguh, tanpa rasa cinta maka seluruh alam semesta ini tentulah akan hancur, binasa tanpa bekas.

Cinta begitu indah namun juga bisa jadi begitu menyakitkan, ia punya seribu wajah yang tentulah akan berbeda wajahnya oleh setiap orang yang memandangnya. Cinta hadir tanpa bisa dicegah karena ia adalah fitrah. Namun, begitu banyak mereka-mereka yang mendapati wajah cinta begitu menyakitkan. Hal yang wajar karena mereka tidaklah mendapati wajah cinta yang sejatinya sangat indah. Kesuciannya yang dinodai membuatnya berwajah menyakitkan jika dipandang.

Cinta, dimanakah sejatinya ia?

“Kau, apa benar-benar yakin ingin menyatakan perasaanmu padanya?” tanya Haris pada sahabatnya itu.

“Tentu, aku sudah begitu lama memendam perasaanku ini, mungkin bisa dibilang aku sudah sangat-sangat mencintainya!” jawab Rafi.

“Tapi, apakah itu yang terbaik?”

“Tentu, apa salahnya aku menyatakan perasaanku padanya? Apalagi aku sudah sangat mencintainya, aku yakin ia pun mempunyai perasaan yang sama denganku!”

“Bagimu, cinta itu apa?” tiba-tiba Haris bertanya.

Continue reading