Kawanku Bernama Masa Lalu

Memandang jauh tarian gelombang laut

Berlomba – lomba bertemu dengan bibir pantai

Sang pasir hanya bisa terpaku diam padat

Sedih karena kadang tak padu bersama pantai

 

Diriku duduk diam tak bersuara

Memutar – mutar slide kehidupanku

Bergerak ke belakang pada masa lalu yang ada

Berusaha mengingatkan lagi tentang kisah dahulu

 

Perlahan butiran bening mencari celah

Dengan kuat memaksa keluar dari kawalan mata

Bertahta bosan di dalam sini dan sangat lelah

Tetap yakin bahwa inilah saatnya

 

Continue reading

Bulan Rembulan

Indah, sangat indah

Rasanya ingin sekali menyentuhnya

Di saat kesendirian seperti ini

Saat jiwa terhempas berjalan tak tentu arah

 

Bulan tersenyum lembut

Belaian cahayanya sehalus usapan kulit bidadari

Tegar di angkasa

Bersinar terang tanpa terhalang

Bersih awan yang mengelilinginya

 

Tak tampak bintang sedikit pun

Agaknya bintang pun malu dengan benderang cahaya bulan

Hingga bersembunyi di balik gelapnya awan

Continue reading

Tak Apa, Semua Akan Menjadi Baik

Malam hening bergerutu di angkasa

Tak tahu arah angin membawa

Menyampaikan salam pesan dari alam semesta

Dikawal bintang kemilau indah sempurna

 

Bintang yang berjauhan sampai di peraduan

Bertemankan merah kuat nan tegas

Tak lupa biru lembut dihadirkan

Mengukir kisah-kisah lepas

 

Kisah yang telah terlahir sejak lama

Tak terbantahkan adanya

Nyata jelas kuat di sana

Hingga akhir tiada

 

Continue reading

Senyum Kesedihan

Waktu mengalir perlahan

Meninggalkan bekas jejak hidup nyata

Kadang hilang ditelan kehidupan di depan

Namun tetap bertahan dalam singgasananya

 

 

Sang merah berjalan dalam terang gelap hidup

Berjuang tanpa kenal lelah

Hinggap di satu adegan hidup

Dihiasi berbagai bahagia dan masalah Continue reading

~Untuknya~

Tak ayal kisah kehidupan terus berlanjut
Menapaki jalan tak pernah menyerah
Terkadang lelah mendera dan berbagi penat
Menangis di atas sebuah kisah

Kisah tak bernyawa tak berwarna
Hanya keping masa lalu hampir terlupa
Tak tau apa dan bagaimana
Ia senantiasa hadir di sana

Tak satupun manusia ingin kehilangannya
Aku, kau, ataupun mereka
Karena ia terlewat berharga
Tak tergantikan oleh apapun yang ada

Ingatkah akan kesetiaannya kepada kita
Kesetiaan untuk selalu berada di samping kita
Kesetiaan untuk menemani kita
Selalu untuk kita, kita, dan kita

Continue reading

Awan

Pagi menyapa

Namun, awan seolah-seolah bersedih hari ini

Rona wajahnya mendung tak bersemangat

Menambah kepiluan hari ini

Oh awan,apakah engkau mengerti perasaanku ini?

Apakah mendung mu adalah wakil dari perasaanku?

Perasaan yang kian membenci…

Mendungmu membiaskan pandanganku

Membuatku buta untuk mencari cahaya sang pangeran siang

Membuatku kehilangan kepercayaan akan adanya cahaya itu

Sejahat itukah dirimu?

Hatiku berteriak tidak percaya padamu

Tapi,teriakannya kecil tak berarti

Tak peduli dirimu dengannya

Ingin sekali aku melihat cahaya sang pangeran siang

Tapi engkau terus menghalangi dengan kejamnya

Apa yang harus ku lakukan?

Aku bingung tanpa arti

Tiba-tiba hatiku beranjak dari peraduannya

Pergi entah kemana

Namun semngat juang jelas terlukis pada dirinya

Tak lama ia kembali

Dengan senyum terindah yang bisa ia berikan padaku

Senyuman itu indah Berkilau

Begitu bersemangat

Begitu menyegarkan

Kutanya padanya mengapa ia tersenyum

Ia hanya menjawab…

“Just believe it, maybe your eyes can’t see it but my eyes can”

“And the light will come toward us”

Dan aku pun paham

Guratan semangat kembali menoreh di relung-relung diriku

Semangat untuk mencari cahaya kebenaran pun menyala

Walau sulit dan tidak mungkin

Namun,aku percaya padaNya

Dan itupun sudah cukup untuk menjadi alasanku berjuang

Seraut Wajah Merah di Kegelapan Malam

Malam begitu gelap

Begitu hening senyap

Kedamaian menyelimuti alam

Menorehkan rasa cinta terdalam

 

Bulan mengintip malu

Anggun dengan pesona tanpa batas waktu

Berkawan awan-awan indah

Tiada luka sampah

 

Bersimpuh di bawahnya

Menengadah kehadapnya

Menerawang jauh hingga ke langit sana

Menembus hari tak terkira

 

Tak sempat meraba

Hilang jatuh ke bumi fana

Kembali bangkit

Walau nyawa sudah setitik ikat

 

Melihat segaris warna merah di atas sana

Tajam, tegar, kuat tak hampa

Mengembara di hadir hati

Tanpa kelu ungkapan diri

 

Tidak sombong

Tidak pula angkuh temaram

Hanya menjaga cahayanya nan rindang

Dari ganasnya malam

 

Tanpa lelah

Terus menunggu

Tanpa mengeluh

Temani cahaya padu

 

Mata coba melihat

Tangan usaha menggapai

Pikiran ingin sampaikan semburat

Badan menyatakan gelisah diri

Continue reading