Mentari pagi bersinar dengan terangnya, memberikan kehangatan pada seantero penduduk bumi. Andaikan tak ada mentari, tentulah bumi hanya sebuah planet kecil dingin tak bernyawa layaknya planet-planet lain tanpa kehidupan. Burung-burung beterbangan ke sana kemari, bernyanyi bersahutan dengan indahnya. Nyanyian yang sebenarnya adalah dzikirnya kepada sang Maha Pencipta Kehidupan, hanya saja kita para manusia tak bisa mendengarnya. Kadang manusia terlalu angkuh dengan segala kelebihan yang dimilikinya, ia terlalu angkuh untuk taat kepada aturan-aturan penciptanya hanya karena pemikiran-pemikiran busuk yang bercokol di dalam otaknya dan menumbuhkan pohon yang berakar sangat kuat di sana. Manusia, makhluk yang sejatinya mulia namun kebanyakan dari mereka justru menghinakan diri mereka sendiri.
Pagi itu seperti biasanya, Jilan sedang disibukkan dengan berbagai aktivitas rumahan yang senantiasa dilakoni tiap pagi. Membersihkan rumah, mencuci pakaian, kemudian memasak merupakan aktivitasnya yang hampir bisa dibilang rutin di pagi hari. Biasanya ia melakukan aktivitas itu usai shalat subuh, kemudian jika seluruh aktivitas itu selesai ia pun bersiap-siap untuk pergi ke kampus, kuliah!
Jilan adalah seorang mahasiswi di sebuah universitas ternama di kotanya. Ia berhasil menembus universitas bergengsi itu dengan usahanya sendiri. Dengan tekad dan usahanya itu, ia berhasil menembus fakultas yang dianggap orang banyak merupakan fakultas paling bergengsi sekaligus paling sulit untuk dijalani yakni fakultas kedokteran.
