Kawanku Bernama Masa Lalu

Memandang jauh tarian gelombang laut

Berlomba – lomba bertemu dengan bibir pantai

Sang pasir hanya bisa terpaku diam padat

Sedih karena kadang tak padu bersama pantai

 

Diriku duduk diam tak bersuara

Memutar – mutar slide kehidupanku

Bergerak ke belakang pada masa lalu yang ada

Berusaha mengingatkan lagi tentang kisah dahulu

 

Perlahan butiran bening mencari celah

Dengan kuat memaksa keluar dari kawalan mata

Bertahta bosan di dalam sini dan sangat lelah

Tetap yakin bahwa inilah saatnya

 

Continue reading

Bulan Rembulan

Indah, sangat indah

Rasanya ingin sekali menyentuhnya

Di saat kesendirian seperti ini

Saat jiwa terhempas berjalan tak tentu arah

 

Bulan tersenyum lembut

Belaian cahayanya sehalus usapan kulit bidadari

Tegar di angkasa

Bersinar terang tanpa terhalang

Bersih awan yang mengelilinginya

 

Tak tampak bintang sedikit pun

Agaknya bintang pun malu dengan benderang cahaya bulan

Hingga bersembunyi di balik gelapnya awan

Continue reading

Tak Apa, Semua Akan Menjadi Baik (Versi Novel)

Suara deru angin bersahutan di luar sana, agaknya memang benar apa yang diberitakan oleh berbagai media informasi baik elektronik, cetak, dan online bahwa kota-kota di Jawa Timur akan menghadapi serbuan angin-angin yang cukup kencang. Tak terkecuali dengan kota tempat Alfan berada sekarang yakni Kota Surabaya, kota yang terkenal dengan mobilitas penduduk yang sangat tinggi, perkembangan kehidupan masyarakat yang cukup cepat karena merupakan salah satu kota besar di Indonesia, dan tentu saja merupakan salah satu kota yang memiliki udara yang cukup panas.

Alfan duduk santai di depan televisi sambil meminum teh yang telah disediakan untuknya pagi hari itu. Angin-angin masih bersahutan seru di luar sana, pohon-pohon melambai-lambai menerima terpaan angin-angin yang belum terlihat tanda-tandanya untuk berhenti bertiup dengan kencang. Ia sedang berada di rumah salah satu keluarganya di kota itu, liburan semester kampusnya yang sedang berlangsung memungkinkan ia untuk berkunjung ke rumah keluarganya itu, sekedar bersilaturahim saja. Karena di pulau Jawa itu hanya keluarganya inilah yang ada di sana, sedangkan sisanya tinggal di tempat kelahirannya, hampir semuanya!

Tiba-tiba didengarnya suara hentakan kaki menuruni tangga menuju ruang keluarga tempat ia berada sekarang…

Continue reading

Tak Apa, Semua Akan Menjadi Baik

Malam hening bergerutu di angkasa

Tak tahu arah angin membawa

Menyampaikan salam pesan dari alam semesta

Dikawal bintang kemilau indah sempurna

 

Bintang yang berjauhan sampai di peraduan

Bertemankan merah kuat nan tegas

Tak lupa biru lembut dihadirkan

Mengukir kisah-kisah lepas

 

Kisah yang telah terlahir sejak lama

Tak terbantahkan adanya

Nyata jelas kuat di sana

Hingga akhir tiada

 

Continue reading

Senyum Kesedihan

Waktu mengalir perlahan

Meninggalkan bekas jejak hidup nyata

Kadang hilang ditelan kehidupan di depan

Namun tetap bertahan dalam singgasananya

 

 

Sang merah berjalan dalam terang gelap hidup

Berjuang tanpa kenal lelah

Hinggap di satu adegan hidup

Dihiasi berbagai bahagia dan masalah Continue reading

Karena Aku Percaya Pada-Mu!

Mentari pagi bersinar dengan terangnya, memberikan kehangatan pada seantero penduduk bumi. Andaikan tak ada mentari, tentulah bumi hanya sebuah planet kecil dingin tak bernyawa layaknya planet-planet lain tanpa kehidupan. Burung-burung beterbangan ke sana kemari, bernyanyi bersahutan dengan indahnya. Nyanyian yang sebenarnya adalah dzikirnya kepada sang Maha Pencipta Kehidupan, hanya saja kita para manusia tak bisa mendengarnya. Kadang manusia terlalu angkuh dengan segala kelebihan yang dimilikinya, ia terlalu angkuh untuk taat kepada aturan-aturan penciptanya hanya karena pemikiran-pemikiran busuk yang bercokol di dalam otaknya dan menumbuhkan pohon yang berakar sangat kuat di sana. Manusia, makhluk yang sejatinya mulia namun kebanyakan dari mereka justru menghinakan diri mereka sendiri.

Pagi itu seperti biasanya, Jilan sedang disibukkan dengan berbagai aktivitas rumahan yang senantiasa dilakoni tiap pagi. Membersihkan rumah, mencuci pakaian, kemudian memasak merupakan aktivitasnya yang hampir bisa dibilang rutin di pagi hari. Biasanya ia melakukan aktivitas itu usai shalat subuh, kemudian jika seluruh aktivitas itu selesai ia pun bersiap-siap untuk pergi ke kampus, kuliah!

Jilan adalah seorang mahasiswi di sebuah universitas ternama di kotanya. Ia berhasil menembus universitas bergengsi itu dengan usahanya sendiri. Dengan tekad dan usahanya itu, ia berhasil menembus fakultas yang dianggap orang banyak merupakan fakultas paling bergengsi sekaligus paling sulit untuk dijalani yakni fakultas kedokteran.

Continue reading

Cinta yang Terlupakan Bagian 5

Malam itu, seusai shalat isya berjamaah di mesjid dekat kosnya, Haris pun langsung tancap gas menuju kosnya Kak Shafy untuk menjemputnya kemudian bersama-sama menuju rumah sakit Lafalet di tengah kota untuk menjenguk anak Ustadz Ilyas yang sedang sakit keras terkena demam berdarah. Sebentar saja, ia sudah sampai di depan kosnya Kak Shafy, dan ternyata beliau sudah siap di depan kosnya hingga tak lama kemudian mereka berdua berangkat menuju rumah sakit itu. Sebelumnya Kak Shafy sudah mengirim sms kepada Ustadz Ilyas yang mengabarkan bahwa mereka berdua akan berkunjung ke tempat beliau, dan alhamdulillah beliau tidak keberatan.

“Kok bisa ya kak anak beliau terkena DBD? Padahal kan baru saja beberapa hari yang lalu kita berkunjung ke rumah Ustadz Ilyas dan melihat anak beliau, si Fikri baik-baik saja. Bahkan kita sempat bermain-main bersama dia?” tanya Haris yang kaget sekaligus kebingungan.

“Ya begitulah dek yang namanya ketentuan Allah. Kita kan ga akan pernah bisa tau kapan dan apa yang akan terjadi pada kita? Ingat kan kalau manusia itu sangat lemah, bahkan menentukan dia lahir sebagai laki-laki atau perempuan saja tidak bisa kan?” jawab Kak Shafy.

“Iya ya kak, manusia sangat lemah. Tapi anehnya kak ya, manusia yang lemah itu berani mengingkari hukum dan perintah yang Maha Kuat, bahkan sampai ada yang berani membuat hukum juga perintah untuk menandingi hukum dan perintah dari yang Maha Kuat!”

“Itulah manusia yang kelewat batas menggunakan akal dan apa-apa yang diberikan Allah. Misalnya saja akal, Allah memberikan manusia akal agar digunakan untuk menyadari tanda-tanda kekuasaan Allah sehingga manusia bisa membuktikan bahwa Allah itu ada kemudian mengimaninya. Lha ini? Ada saja manusia yang kelewat gila menggunakan akalnya, ia berani menentukan wujud Allah itu seperti apa, malaikat, dls. Bahkan berani mengambil peran dan hak prerogatif Allah untuk membuat hukum peraturan kehidupan ini!”

“Bener-bener manusia yang pantas diazab ya kak?”

Continue reading