Antara Skill dan Pemahaman (Pengembangan Konsep Habits)

Skill - PemahamanPernah seorang teman bertanya, “Mengapa seorang yang hafidz Qur’an ternyata pacaran dan pergaulannya tidak terjaga?”

Atau pertanyaan seperti, “Ustadz kok kayak artis?”

Mungkin juga begini, “Anak pengajian, pintar ngomong Islam tapi kok tetap ngambil riba?”

 

Pembaca sekalian, anda pasti pernah menemui hal seperti ini atau mungkin anda juga seringkali ditanyakan hal serupa. Pernah bahkan sering saya ditanyakan hal seperti itu, pada awalnya sempat bingung dan bertanya-tanya kepada diri sendiri, “Iya ya, kenapa bisa seperti itu?”

Setelah dipikirkan dan direnungi, ternyata ada sebuah jawaban yang bisa dibilang sederhana tapi sangat pas untuk menjawab permasalahan yang dilematis ini. Saya menyebutnya sebuah perbandingan antara Skill dan Pemahaman. Yap, dua hal ini lah yang menjadi ujung tombak permasalahan yang ada tadi. Suatu keanehan yang seharusnya tidak boleh terjadi, mengingat dampak opini negatif yang akan berkembang dari sana.

Bagi saya masalah di atas memang wajar terjadi ketika -saya menyebutnya- Skill dan Pemahaman yang tidak berjalan beriringan. Bagaimana bisa?

Continue reading

Film Tanda Tanya, Diprotes Banser NU & Dikecam MUI

Film “Tanda Tanya” karya sutradara Hanung Bramantyo mulai diputar di sejumlah bioskop di Indonesia, Kamis (7/4). Namun, film yang mengangkat sisi kehidupan umat beragama di Indonesia itu menuai protes Banser NU dan MUI.

Banser Nahdlatul Ulama Cabang Kota Surabaya mengecam penayangan film berjudul Tanda Tanya karena dinilai mendiskreditkan sosok Banser.

Sekretaris Satkorcab Banser Kota Surabaya, M Hasyim As’ari, Rabu, mengatakan, protes tersebut dilakukan karena dalam film tersebut Hanung menukil peran Soleh sebagai sosok Banser dengan beragam perannya sesuai fakta di masyarakat.

Dalam film tersebut, Banser versi Hanung digambarkan sebagai sosok yang mudah cemburu dan dangkal pengetahuannya.

Menurut dia, pihaknya sangat menyayangkan langkah Hanung yang tertutup dalam menggarap film dengan bahan mengambil kelompok-kelompok tertentu.

”Mestinya, Hanung konfirmasi kepada tokoh-tokoh Banser sebelum membuat skenario sehingga tidak membuat ketersinggungan. Hanung sutradara top, namun pengetahuannya soal NU, terutama Banser, saya nilai nol besar. Terbukti sosok Banser yang dimunculkan sebagai tokoh sentral dalam filmnya justru mendiskreditkan Banser,” katanya.

Banser NU mengatakan tidak semua yang dituangkan Hanung benar adanya. ”Saya yakin masyarakat sudah paham, siapa Hanung sebenarnya, bahkan dalam film Sang Pencerah yang mengusung tokoh Muhammadiyah dia juga berusaha memunculkan orang NU di dalamnya, meski lagi-lagi tidak sesuai kepribadian orang Nahdliyin, itulah Hanung,” katanya.

Continue reading

SBY di Surabaya v.s. Khalifah di Negara Islam

Presiden?

Sejak kemarin sore, aku bertolak dari kota Malang menuju kota Surabaya seusai UAS (Ujian Akhir Semester) terakhirku yakni mata kuliah Automata dan Bahasa Formal yang ternyata cukup sukses membuatku pusing setelah keluar dari ruangan kelas tempat ujian berlangsung. Dari kampus aku langsung menuju rumah kontrakan yang sekaligus menjadi tempat biasanya kegiatan dakwah dilakukan di sana. Sehari sebelumnya aku sudah menelepon travel untuk menjemputku sekitar jam 5 sore di rumah kontrakanku, maka usai sampai rumah kontrakan aku langsung ­packing-packing pakaian untuk digunakan selama di Surabaya nanti. Akhirnya jadilah 5 sore aku dijemput travel, yang satu jam kemudian baru travel itu benar-benar keluar dari kota Malang karena selama satu jam itu harus menjemput penumpang lainnya.

Sambil berada di perjalanan, sang pengemudi mobil travel yang aku sudah cukup akrab dengannya karena berbagai pembicaraan, menyalakan radio mobil untuk mendengarkan satu siaran yang memberikan berita-berita terupdate tentang kondisi rute jalan dari Malang ke Surabaya. Berkali-kali aku sempat tertidur selama di dalam perjalanan dan berkali-kali pula aku terbangun. Akhirnya sebelum memasuki gerbang tol Waru, aku memutuskan untuk tidak tidur lagi karena aku ingin menghapal jalan dari pintu gerbang tol Waru menuju Bundaran Waru Surabaya. Nah, ketika itulah aku mendengarkan sebuah siaran radio yang menyiarkan satu berita menarik bahwa Pak SBY, orang nomor satu di Indonesia datang ke Surabaya besok hari.

Continue reading

Janganlah Kalian Turut Bersama Kaum Nasrani (Kristen) Dalam Merayakan Hari Raya Mereka (Natal dan Tahun Baru)

Kami memulai kajian ini, dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Rasul-Nya yang mulia, serta keluarga dan para shahabatnya.

Saat ini, kaum Nasrani (Kristen) sedang merayakan Natal dan Tahun Baru Masehi. Namun tidak sedikit di antara kaum Muslim yang turut merayakannya bersama mereka. Dan mereka pun saling mengucapkan selamat kepada kaum Nasrani dalam memperingati hari rayanya ini. Maka, kepada mereka ini, kami katakan “janganlah kalian turut bersama kaum Nasrani dalam merayakan hari raya mereka”. Sebenar-benar perkataan adalah Kitabullah, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Saw; sebaliknya seburuk-buruk perkara adalah perkara (peribadatan) baru yang tidak dikenal dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah (muhdats), dan setiap muhdats adalah bid’ah; sementara setiap bid’ah itu adalah kesesatan, dan setiap kesesatan tempatnya di neraka.

Allah Dzat Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi berfirman: “Katakanlah: ‘Dia-lah Allah, Yang Maha Esa, Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia’.” (TQS. Al-Ikhlash [112] : 1-4).

Surat Al-Ikhlash ini sebagian dari Kitabullah, yang datang dari Dzat Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi. Surat ini, sekalipun pendek, namun sebanding dengan sepertiga dari Al-Qur’an.

Di dalam surat Al-Ikhlash ini terkandung:

-      Tauhid (keimanan atas ke-Esaan Allah) dan keikhlasan.

-      Akidah (keyakinan) yang bersih dan murni.

Continue reading

~Antara Rezeki, Jodoh, dan Ajal/Kematian~

Banyak mungkin diantara kita yang masih berpendapat bahwa Rezeki, Ajal, serta jodoh telah ditetapkan oleh Allah semenjak kita masih di dalam kandungan. Pemikiran seperti ini mungkin telah mentajasad atau seolah telah mendarah daging di dalam diri kita (red = pemikiran). Apalagi kiranya sejak kecil mungkin orang tua, guru, dan lingkungan masyarakat dimana tempat kita hidup pun kalimat ini sampai sekarang masih sangat familiar diulang-ulang.

Untuk membahas ini, maka mari kita coba untuk urai masalah ini sehingga kita bisa menyimpulkan tentang hakikat dari ketiga kata tersebut, yakni seputar Rezeki, Ajal, dan Jodoh.

1. REZEKI

Ar-Rizqu (rezeki) secara bahasa berasal dari akar kata razaqa–yarzuqu–razq[an] wa rizq[an]. Razq[an] adalah mashdar yang hakiki, sedangkan rizq[an] adalah ism yang diposisikan sebagai mashdar. Kata rizq[an] maknanya adalah marzûq[an] (apa yang direzekikan); mengunakan redaksi fi’l[an] dalam makna maf’ûl (obyek) seperti dzibh[an] yang bermakna madzbûh (sembelihan).
Secara bahasa razaqa artinya a’thâ (memberi) dan ar-rizqu artinya al-‘atha’ (pemberian). 1 Menurut ar-Razi dan al-Baydhawi, secara bahasa ar-rizqu juga berarti al-hazhzhu (bagian/porsi), yaitu nasib (bagian) seseorang yang dikhususkan untuknya tanpa orang lain. Karena itu, Abu as-Saud mengartikan ar-rizqu dengan al-hazhzhu al-mu’thâ (bagian/porsi yang diberikan).2 Menurut Ibn Abdis Salam dalam tafsirnya, asal dari ar-rizqu adalah al-hazhzhu (bagian/porsi). Karena itu, apa saja yang dijadikan sebagai bagian/porsi (seseorang) dari pemberian Allah adalah rizq[an]. Selain itu, ar-rizqu juga diartikan apa saja yang bisa dimanfaatkan. Dari semuanya itu, ar-rizqu bisa diartikan sebagai: bagian/porsi dari pemberian Allah kepada seorang hamba berupa apa saja yang bisa dimanfaatkan sebagai bagian/porsi yang dikhususkan untuknya.

Continue reading

Rekonstruksi Paradigma Gerakan Mahasiswa


Berbeda dengan era 90-an, kampus kini membisu disaat 36 juta lebih rakyat Indonesia hidup dibawah garis kemiskinan, disaat pemerintah membuat kebijakan yang sangat kontradiktif dengan kondisi objektif rakyat, disaat berbagai penyelewangan dilakukan oleh para elit penguasa untuk menguntungkan dirinya sendiri, disaat jutaan generasi muda digempur oleh beraneka ragam penyimpangan moral. Siapapun dapat menafsirkan fenomena ini. Namun yang pasti, realitas mahasiswa hari ini memperlihatkan sebuah stagnasi pemikiran dan ide ditengah status quo yang telah berlangsung selama kurang lebih satu dekade.

Gejala ini mencerminkan sikap kritis dan responsif yang identik dengan idealisme mahasiswa kini telah memudar ditengah dinamika sosial-budaya yang berlangsung dengan sangat cepat. Di tengah gempuran media yang semakin liar, kesadaran dan cara pandang mahasiswa semakin bergesar ke arah wilayah yang hedonistik dan pragmatis. Budaya intelektual, kritis, dan akademis kini tergantikan oleh budaya hura-hura, permisif, dan apatis. Maka tak heran jika realitas sosial politik, ekonomi, dan budaya yang kini kian carut marut menjadi semakin diabaikan oleh para mahasiswa. Untuk ukuran saat ini, kita wajib bersyukur bila ada satu dari sepuluh orang mahasiswa yang sadar akan tugas dan tanggung jawab sosialnya sebagai agent of change.

Continue reading

Menggugat Kemerdekaan Indonesia

Merdeka, Merdeka

Mungkin itulah kata-kata yang ramai diteriakkan dua hari yang lalu. Memang benar, dua hari yang lalu adalah tanggal 17 Agustus, tanggal yang sangat bersejarah bagi bangsa Indonesia. Ya, pada tanggal itulah Indonesia mendapatkan sesuatu yang dikatakan sebagai sebuah “Kemerdekaan” dan bebas dari penjajahan. Dua hari yang lalu, 17 Agustus 2010, genap lah 65 tahun kemerdekaan Indonesia itu. Secara sederhana, kemerdekaan artinya sebuah kebebasan dan bisa jadi sebuah kemakmuran yang didapatkan oleh sebuah negara. Kebebasan untuk mengatur administrasi dan birokrasi negaranya sendiri, kemakmuran dan kesejahteraan yang bisa didapatkan oleh para rakyatnya. Itulah sedikit dan sederhana dari definisi sebuah kemerdekaan. Namun, jika melihat keadaan Indonesia sekarang, benarkah Indonesia sudah merdeka? Benarkah keadaan yang sekarang layak disebut sebagai sebuah kemerdekaan? Atau kalaupun sekarang ini diartikan sebuah kemerdekaan, benarkah kemerdekaan yang seperti ini yang diharapkan oleh para pejuang kemerdekaan itu sendiri?

Continue reading