Pernah seorang teman bertanya, “Mengapa seorang yang hafidz Qur’an ternyata pacaran dan pergaulannya tidak terjaga?”
Atau pertanyaan seperti, “Ustadz kok kayak artis?”
Mungkin juga begini, “Anak pengajian, pintar ngomong Islam tapi kok tetap ngambil riba?”
Pembaca sekalian, anda pasti pernah menemui hal seperti ini atau mungkin anda juga seringkali ditanyakan hal serupa. Pernah bahkan sering saya ditanyakan hal seperti itu, pada awalnya sempat bingung dan bertanya-tanya kepada diri sendiri, “Iya ya, kenapa bisa seperti itu?”
Setelah dipikirkan dan direnungi, ternyata ada sebuah jawaban yang bisa dibilang sederhana tapi sangat pas untuk menjawab permasalahan yang dilematis ini. Saya menyebutnya sebuah perbandingan antara Skill dan Pemahaman. Yap, dua hal ini lah yang menjadi ujung tombak permasalahan yang ada tadi. Suatu keanehan yang seharusnya tidak boleh terjadi, mengingat dampak opini negatif yang akan berkembang dari sana.
Bagi saya masalah di atas memang wajar terjadi ketika -saya menyebutnya- Skill dan Pemahaman yang tidak berjalan beriringan. Bagaimana bisa?
Film “Tanda Tanya” karya sutradara Hanung Bramantyo mulai diputar di sejumlah bioskop di Indonesia, Kamis (7/4). Namun, film yang mengangkat sisi kehidupan umat beragama di Indonesia itu menuai protes Banser NU dan MUI.



